Monday, November 14, 2016

8 Ilmuwan Muslim Terkemuka yang Hidup Pada Masa Lalu

Mufa Media - Dinasti Bani Abbasiyah, yang berkuasa lebih dari lima abad, sejak 132-656 H/750-1258 M, merupakan dinasti Islam yang memberikan sumbangan besar bagi kegemilangan peradaban Islam. Dengan dukungan para khalifah yang memiliki perhatian besar bagi pengembangan  ilmu pengetahuan dan peradaban, melahirkan banyak ilmuwan dan para ulama cemerlang yang karya-karyanya abadi sepanjang sejarah sekaligus  membuktikan bahwa peradaban dan kebudayaan  Islam memberi sumbangan besar bagi peradaban dunia. Tentu keberadaan dan karya-karya mereka sangat menginspirasi generasi muda muslim saat ini. Untuk mengenal lebih dekat para ilmuwan muslim terkemuka tersebut, berikut uraiannya.

Ilmuwan muslim

1. Ali Ibnu Rabbani At-Tabari (838-870M)

Abu Al-Hasan Ali bin Sahl Rabban At-Tabari, berasal dari keluarga Syria Yahudi terkenal di Merv dan pindah ke Tabaristan, sehingga dikenal dengan sebutan At-Tabari. Ayahnya  Sahal bin Bisyr adalah seorang pejabat negara, yang berpendidikan tinggi dan dihormati masyarakat. Ali bin Sahl At-Tabari  masuk Islam pada masa kekhalifahan Al-Mu’tasim. Ia mahir  berbahasa Syria dan Yunani, dua bahasa yang menjadi sumber  untuk tradisi pengobatan  kuno. Selanjutnya, At-Tabari dikenal sebagai seorang dokter. Dia juga menjadi ilmuwan yang menulis ensiklopedia kedokteran, berjudul Fidaus al-Hikmah yang ditulisnya setelah memeluk agama Islam.

Ali Ibnu Rabbani At-Tabari
Fidaus al-Hikmah ditulis dalam bahasa Arab, kemudian diterjemahkan sendiri ke dalam bahasa Syiria. Buku ini dibagi ke dalam tujuh bagian; bagian pertama memuat masalah doktrin ilmu kesehatan kontemporer, berjudul Kulliyatu at-Thibb; bagian kedua berisi uraian bagian-bagian organ tubuh manusia, peraturan mejaga kesehatan dan laporan tentang penyakit-penyakit yang menghinggapi otot; bagian ketiga berisi deskripsi tentang diet; bagian keempat tentang seluruh penyakit yang biasa menimpa badan; bagian kelima berisi deskripsi tentang rasa dan warna; bagian keenam tentang obat-obatan dan racun; dan bagian ketujuh berisi diskusi tentang astronomi,  juga ringkasan pengobatan ala India.

Ali Rabbani At-Tabari bukan hanya seorang dokter, ia juga ilmuwan yang menguasai berbagai macam ilmu lain diantaranya ahli dalam ilmu astronomi, filsafat, matematika, dan sastra. Ali merupakan guru dari  seorang ahli pengobatan muslim terkenal lainnya, yakni Zakaria Abu Bakar Ar-Razi. 


2. Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Sina/ Ibnu Sina (370 H – 428 H)

Ibnu Sina, di dunia Barat dikenal dengan nama Avvicenna, lahir bulan Shafar 370 H/Agustus  980 M di Ifsyina (negeri kecil dekat Charmitan), suatu  kota di Bukhara. Orang tuanya pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Ibnu Sina dibesarkan di Bukhara. Pada  usia sepuluh tahun telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal Al-Qur’an. Dari Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina belajar  ilmu logika untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan Al-Magest Ptolemus. Setelah itu ia mendalami metafisika Plato dan Arsitoteles.

Ibnu Sina
Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, ilmuwan Kristen. Pada  usia 17 tahun telah dikenal sebagai dokter dan pernah mengobati pangeran Nuh Ibnu Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istana yang terlengkap yaitu Kutub Khana. 

Dalam dunia kedokteran, Ibnu Sina adalah ilmuwan muslim pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia juga yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia juga yang mula-mula mempraktekkan pembedahan dan menjahitnya. Dan dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa yang kini disebut psikoterapi . 

Ibnu Sina adalah ilmuwan produktif, menulis buku mencapai 200 buah yang meliputi filsafat, kedokteran, geometri, astronomi, teologi, filologi, dan kesenian. Karya monumentalnya berjudul Al-Qanun fit-Tibb. Buku ini merupakan kumpulan pemikiran kedokteran Yunani-Arab. Karya Ibnu Sina ini dipakai sebagai buku panduan bagi para mahasiswa yang mempelajarai kedokteran dari abad ke-12 sampai abad  ke-17 M. Buku ini membedakan antara mediastinum dan pleurisy (pembengkakan pada paru-paru); mengenai kemungkinan penalaran wabah penyakit phthisis (penyakit saluran pernafasan, utamanya asma dan TBC) melalui pernafasan dan penyebaran berbagai penyakit melalui air dan debu. Ibnu Sina juga memberikan diagnosis ilmiah tentang penyakit ankylostomisis dan menyebutkan cacing pita sebagai penyebabnya. Sekitar 170 jenis obat-obatan disebutkan dalam buku ini.

Karya-karya lain Ibnu Sina adalah :
  1. Buku mengenai politik seperti: Risalah As-Siyasah, Fi Isbati an-Nubuwah, Al-Arzaq,
  2. Buku mengenai Tafsir seperti: Surah al-Ikhlas, Surah al-Falaq, Surah an-Nas, Surah al-Mu’awizataini, Surah al-A’la.
  3. Buku Psikologi seperti: An-Najat.
  4. Buku ilmu kedokteran selain Al-Qanun fi al-Thibb, adalah al-Urjuzah fi At-Tibi, al-Adwiyah al-Qolbiyah, Kitabuhu al-Qoulani, Majmu’ah Ibnu Sina al-Kubra, Sadidiyya.
  5. Buku tentang Logika seperti: Al-Isyarat wat Tanbihat, al-Isyaquji, Mujiz, Kabir wa Shaghir  
  6. Buku tentang musik seperti: Al-Musiqa.
  7. Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  8. Buku Fisika seperti: Fi Aqsami al-Ulumi al-Aqliyah
  9. Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.
  10. Buku filsafat seperti As-Syifa’Hikmah al-Masyiriqiyyin,   Kitabu al-Insyaf, Danesh Nameh, Kitabu al-Hudud,  Uyun-ul Hikmah
  11. dan sebagainya.

3. Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi (251-313H/864-930M)

Abu bakar Muhammad bin Zakaria ar Razi, berasal dari Persia,  lahir di Ray pada tahun 865 M di dunia Barat dikenal dengan panggilan ‘Ar-Razes. Ar-Razi adalah murid cemerlang dari Ali bin Sahl Rabban At-Tabari.   Setelah mempelajari matematika, astronomi, logika, sastra, dan kimia, ia memusatkan perhatiannya pada kedokteran, dan filsafat. Ia menjadi seorang dokter dan filosof  besar pada zamannya.

Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi
Ar-Razi sangat rajin melakukan penelitian dan menuliskan berbagai hasil penelitiannya.  Ia pernah menulis dalam setahun lebih dari 20.000 lembar kertas. Karya ar-Razi mencapai 232 buku atau risalah dan kebanyakan dalam bidang kedokteran.

Karya tulis hasil penelitiannya yang termashur adalah al-Hawi, Ensiklopedi Kedokteran berjumlah 20 jilid. Buku ini berisi ilmu kedokteran Yunani, Arab, dan diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada tahun 1279 M. Sejak saat itu, buku tersebut menjadi  rujukan di universitas -universitas Eropa sampai abad ke-17 M. Bukunya yang lainnya yang terkenal adalah Fi al-Judari wa al-Hasbat  yang membahas penyakit campak dan cacar dan diterjemahkan juga ke dalam bahasa latin. Pada tahun 1866 M, buku itu dicetak untuk yang ke-40 kalinya. Ar-Razi wafat pada tahun 932 M di kota kota kelahirannya.

4. Abu Yusuf Ya’qub Ibnu Ishaq Al-Sabah Al-Kindi (801-873M)

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’as bin Qais Al-Kindi. Nama al-Kindi berasal dari nama salah satu suku Arab yang besar sebelum Islam, yaitu suku Kindah. Al-Kindi lahir di Kufah pada tahun 185 H /801 M pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid. Ayahnya bernama Ibnu As-Sabah pernah menjadi  Gubernur Kufah pada masa kekhalifahan  Al-Mahdi (775 M–785 M) dan Harun Ar-Rasyid (786 M–809 M). Kakeknya, Asy’ats bin Qais, dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad  SAW.

Abu Yusuf Ya’qub Ibnu Ishaq Al-Sabah Al-Kindi
Al-Kindi sosok yang dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting,  yaitu Yunani, Suryani, dan Arab dikuasainya, sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu. Al-Kindi adalah  filosof muslim pertama,  karena ia adalah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Pada saat itu, sampai abad ke-7 M, pengetahuan filsafat masih didominasi orang-orang Kristen Suriah. Al-Kindi menerjemahkan dan menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Ia juga dikenal sebagai pemikir muslim pertama yang menyelaraskan filsafat dan agama. Al-Kindi memandang filsafat sebagai ilmu yang mulia. Ia melukiskan filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat bertujuan untuk memperkuat kedudukan agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.

Al-Kindi  menguasai beragam  ilmu pengetahuan. Karyanya berjumlah kurang lebih 270 buah, yang dapat dikelompokkan dalam bidang filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, psikologi, politik, dan meteorologi. Salah satu karya Al Kindi di bidang filsafat adalah Risalah fi Madkhal al Mantiq bi Istifa al Qawl fih yang berisi tentang sebuah pengatar logika. 
Al-Kindi mengalami kehidupan tidak kurang  dari lima periode khalifah Dinasti Abbasyiah,  yakni, Al-Amin, Al-Makmun, Al-Mu’tasim, Al-Wasiq dan Al-Mutawakkil. Dia menjadi salah satu ilmuwan besar sekaligus bukti hidup kegemilangan kebudyaaan Islam era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Ia juga diangkat sebagai guru dan tabib kerajaan. Al-Kindi meninggal pada tahun 869 M.

5. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Tusi Al-Syafi’i (450-505H/1058-1111M)

Nama lengkap Imam Al-Ghazali  ialah Muhammad bin Ahmad Al-Imamul Jalil Abu Hamid Ath Thusi Al-Ghazali,  lahir di Thusi daerah Khurasan wilayah Persia pada  tahun 450 H /1058 M. Ayah Al-Ghazali  seorang pemintal  benang dan ahli tasawuf yang hebat.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Tusi Al-Syafi’i
Pada masa kecilnya ia sudah mempelajari ilmu fiqh kepada  Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Rozakani, teman ayahnya sekaligus orang tua asuh Al-Ghazali. Kemudian  belajar  kepada Imam Abi Nasar Al-Ismaili di negeri Jurjan. Selanjutnya, ia berangkat ke Nisafur dan belajar pada Imam Al-Haramain Al-Juwaini, guru besar di Madrasah Nizhamiyah Nisafur.  Dengan cepat Al-Ghozali dapat menguasai  ilmu –ilmu pengetahuan pokok, seperti ilmu matiq (logika), falsafah dan fiqh madzhab Syafi’i. Karena kecerdasannya ini Imam Al-Haramain mengatakan bahwa al-Ghazali itu adalah ”lautan tak bertepi’’.

Setelah Imam Al-Haramain wafat, Al-Ghazali meninggalkan Naishabur (Nisafur), pergi ke Mu’askar untuk mengunjungi  Perdana Menteri Nizam Al-Muluk, pemerintahan Bani Saljuk. Al-Ghazali  disambut dengan penuh kehormatan sebagai seorang ulama besar. Menteri Nizam Al-Muluk akhirnya melantik Al-Ghazali pada tahun 484 H/1091 M, sebagai guru besar pada perguruan Tinggi Nizamiyah  di kota Baghdad. Al-Ghazali kemudian mengajar di perguruan tinggi tersebut. Disamping menjadi guru besar di Nizamiyah, Al-Ghazali   diangkat sebagai mufti untuk membantu  pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat. 

Al-Ghazali selalu hidup berpindah-pindah, khususnya untuk mendalami pengetahuan. Setelah dari Baghdad berangkat ke Syam, menetap hampir 2 (dua) tahun untuk berlatih   membersihkan diri,   menyucikan hati dengan mengingat Tuhan dan beri’tikaf di mesjid Damaskus. Kemudian  menuju ke Palestina untuk mengunjungi kota Hebron dan Jerussalem, tempat di mana para Nabi sejak dari Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa mendapat wahyu pertama dari Allah. Terus berangkat ke Mesir, yang merupakan pusat kedua bagi kemajuan dan kebesaran Islam sesudah Baghdad. Di  Mesir, dari Kairo dilanjutkan   ke Iskandariyah, selanjutnya ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima dan berzirah ke kuburan Nabi Ibrahim. Selanjutnya ia kembali ke Naisabur dan mendirikan Madrasah Fiqh dan  asrama (khanqah) untuk melatih Mahasiswa-mahasiswa dalam paham sufi. 

Al-Ghazali menulis banyak sekali kitab, meliputi bidang ilmu yang populer pada zamannya, di antaranya tentang tafsir al-Qur’an, ilmu kalam, ushul fiqh, fiqih, tasawuf, mantiq, falsafat, dan lain-lain. Beberapa yang sangat termasyhur dan banyak menjadi rujukan di lembaga-lemba pendidikan di Indonesia adalah:
  1. Ihya Ulum Ad-Din, yang  membahas ilmu-ilmu agama.
  2. Tahafut al-Falasifah, menerangkan pendapat para filsuf ditinjau dari segi agama.
  3. Al-Munqidz min adh-Dhalal, menjelaskan tujuan dan rahasia-rahasia ilmu.
  4. Al-Iqtashad fi Al-‘Itiqad (inti ilmu ahli kalam),    
  5. Jawahir Al-Qur’an (rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an)
  6. Mizan Al-‘Amal (tentang falsafah keagamaan)
  7. Al-Maqasshid Al-Asna fi Ma’ani Asma’illah Al-Husna (tentang arti nama- nama Tuhan).
  8. Al-Basith (fiqh).
  9. Al-Mustasfa (ushul fiqh), dan lain-lain.

Al-Ghazali  wafat di Tusia, sebuah kota tempat kelahirannya pada tahun 505 H (1111 M) dalam usianya yang ke 55 tahun.

6. Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ya’qub Ibnu Miskawaih (320-412H/ 932-1030M)

Nama lengkapnya, Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ya'qub Ibnu Miskawaih, lebih dikenal  Ibnu Miskawaih atau Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi (Persia), kemudian masuk Islam. Julukannya adalah Abu ’Ali, yang yang merujuk kepada sahabat ’Ali Ibnu Abi Tholib, di samping juga bergelar al-Khazin yang berarti bendaharawan, karena jabatannya sebagai bendaharawan/ menteri keuangan pada masa kekuasaan ’Adlud al-Dawlah dari Bani Buwaih (al-dawlah al-buwaihiyyah).

Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ya’qub Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih dilahirkan di Ray (Teheran Iran, sekarang). Para penulis sejarah berselisih pendapat tentang tanggal kelahirannya.  Namun pendapat yang lebih kuat mengatakan Miskawaih lahir pada tahun 330 H/942 M, dan meninggal dunia pada tanggal 9 Shafar 421H/16 Pebruari 1030 M.

Tidak banyak informasi yang menjelaskan riwayat pendidikannya. Sejarawan  Ahmad Amin menjelaskan bahwa pendidikan anak-anak pada zaman Abbasiyah adalah bahwa pada umumnya anak-anak memulai menuntut ilmu pengetahuan dengan belajar membaca, menulis, mempelajari al-Qur’an dan dasar dari bahasa Arab (nahwu)  serta membuat syair-syair. Dilanjutkan dengan mempelajari ilmu Fiqhi, sejarah,  matematika dan ilmu-ilmu peraktis seperti ilmu musik,  catur dan kemiliteran.  Ada keterangan keterangan Ibnu Miskawaih belajar sejarah dari Abu Bakr Ahmad Ibnu Kamil Al-Qadi, mempelajari filsafat dari Ibnu Al-Akhmar, dan mempelajari kimia dari Abu Thayyib. Ia juga berkawan dengan para ilmuwan diantaranya Ibnu Sina.

Ibnu Miskawaih dikenal sebagai sejarawan besar yang kemasyhurannya melebihi pendahulunya, At-Thabari. Ia juga seorang dokter, penyair, dan ahli bahasa serta seorang filosof muslim yang  mampu memadukan tradisi pemikiran Yunani dan Islam, di samping juga ahli dalam filsafat Romawi, India, Arab, dan Persia. Selanjunya yang menjadi perhatian terbesarnya adalah filsafat etika Islam, hal ini terlihat pada banyak buku-buku karyaya, diantaranya: Risalah fi al-Lazzat wa al-Alam, Risalah fi at-Thabi'at, Risalah fi Jaubar an-Nafs, Maqalat an-Nafs wa al-'Aql, Fi Isbat as-Shuwar al-Ruhaniyat allati la Yabula Lama, min Kitab al-'Aql wa al-Ma'qul, Ta'rif li Miskawaih Yumayyizu bihi bain ad-Dahr wa az-Zaman, Tahzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A'raq dan Risalah fi Jawab fi Su'ali li 'Ali Ibnu Miskawaih Ila Abi Hayyan as-Shauli fi Haqiqat al-'Adl.

Oleh sebab itu, Ibnu Miskawaih menjadi ilmuwan  muslim pertama di bidang filsafat akhlak. 

7. Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan (750-803M)

Orang Barat mengenalnya dengan sebutan ‘Geber’. Abu Musa Jabir bin Hayyan  lahir di Kufah pada tahun 750 M. Sumbangan terbesar Jabir dalam dunia ilmu pengetahuan  adalah dalam bidang kimia.

Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan
Keahliannya itu didapatnya dari seorang guru bernama Barmaki Vizier pada era pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali.

Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi. Jabir dapat dipandang telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. 

Sumbangan lainnya  yang penting antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi, dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

Jabir menulis kitab-kitab penting bagi pengembangan ilmu kimia,  antara lain; Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab’een, Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.

8. Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi (780-850M)

Nama lengkap  Al-Khawarizmi adalah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi atau Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff.  Di dunia Barat dikenal sebagai Al-Khawarizmi, Al-Cowarizmi, Al-Ahawizmi, Al-Karismi, Al-Goritmi, Al-Gorismi dan beberapa ejaan lain. Tentang tahun kelahirannya banyak pendapat. Ada yang mengatakan Al-Khawarizmi hidup sekitar awal pertengahan abad ke-9 M. Sumber lain mengatakan hidup di Khawarism, Usbekistan pada tahun 194 H/780 M dan meninggal tahun 266 H/850 M di Baghdad.

Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi
Al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang berpengetahuan luas, bukan hanya dalam bidang syariat tapi di dalam bidang filsafat, logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam dan kimia serta penulis ensiklopedia dalam berbagai disiplin. 

Dalam usia muda bekerja di Bait al-Hikmah di bawah pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Ia bekerja dalam sebuah observatorium matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah. 

Al-Khawarimi memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Ia adalah ilmuwan yang pertama kali memperkenalkan aljabar dan hisab. Pengetahuan dalam bidang matematika dan menghasilkan konsep-konsep matematika yang masih digunakan sampai sekarang. 

Beberapa karya yang menjadi sumbangan besarnya bagi pembangan ilmu pengetahuan modern diantaranya: 
  1. Al-Jabr wa’l Muqabalah, pemakaian secans dan tangens dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi.
  2. Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah, contoh-contoh soal matematika.
  3. Sistem nomor dan memperkenalkan Cos, Sin, Tangen dalam penyelesian persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki, segi empat, dan lingkaran dalam geometri.
  4. Ilmu perbintangan (astronomi). 
  5. Memperkenalkan cabang-cabang ilmu matematika seperti, geometri, aljabar, aritmatika.
  6. Angka nol memiliki nilai, dengan angka nol terbuka jutaan kemungkinan.  Dari gagasan inilah operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bisa jadi lebih mudah dan sederhana. 
  7. Mengembangkan sistem nilai-tempat desimal dengan angka 1 sampai 9 sebagai angka sekaligus pengisi nilai tempat dan angka nol sebagai angka saja. 
Demikianlah sekilas kisah dan biografi 8 ilmuwan muslim terkemuka yang hidup pada masa lalu (tepatnya pada masa Dinasti Abbasiyah) versi Mufa Media. Semoga bermanfaat.


Sumber: Buku Paket SKI Kurikulum 2013 Kelas 8